Kisah para petani di Kolombia 'tak bisa berhenti menanam bahan baku kokain' – Bagaimana 'tragedi' ini bisa terjadi?

    • Penulis, Catherine Ellis
    • Peranan, Business reporter
    • Melaporkan dari, Meta, Colombia
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 7 menit

Ketika Perea berhenti menanam koka, bahan baku yang digunakan untuk membuat kokain, petani di Provinsi Meta, Kolombia, ini bersumpah untuk tidak pernah menanamnya lagi.

Parea mencabut semak-semak hijau di lahan pertanian kecilnya di sudut terpencil Kolombia, yang hanya dapat diakses melalui sungai. Saat itu laki-laki paruh baya ini mengganti tanaman koka dengan tanaman legal, seperti singkong dan pisang.

Perea adalah satu dari ribuan petani Kolombia yang bergabung dengan program penggantian tanaman yang dijalankan pemerintah setempat. Melalui proyek ini, pemerintah mengklaim hendak membantu para petani meninggalkan pertanian koka.

Namun belakangan sebagian besar bantuan yang dijanjikan pemerintah tidak pernah diterima oleh para petani. Infrastuktur jalan yang minim dan banjir yang berulang membuat para petani sulit untuk menjual hasil panen tanaman baru mereka.

Pada tahun 2024, karena kecewa, Parea mulai menanam koka lagi.

"Ini sebuah tragedi," kata Perea.

"Tetapi ketika Anda memiliki anak dan tidak ada pekerjaan, pilihan apa yang Anda miliki? Jika tidak ada bantuan yang pernah datang, Anda kembali menanamnya," tuturnya.

Daun koka adalah tanaman leluhur yang secara tradisional digunakan oleh masyarakat adat dalam teh dan obat-obatan. Namun saat ini sebagian besar hasil tanaman ini diolah menjadi kokain.

Diperkirakan 70% pasokan global narkotik ilegal berasal dari Kolombia.

"Koka memiliki beberapa keunggulan utama dibandingkan tanaman lain," kata Lucas Marín Llanes, seorang peneliti Kolombia yang fokus pada ekonomi koka.

"Panen tanaman ini cepat. Petani bisa mendapatkan tiga atau empat kali panen setahun, lebih mudah diangkut, dan petani tahu harga yang akan mereka dapatkan," tuturnya.

Penelitian yang dilakukan Marín menunjukkan bahwa budidaya koka juga dapat meningkatkan ekonomi lokal, meningkatkan penghasilan domestik bruto hingga 10% di beberapa daerah di Kolombia, antara tahun 2014 dan 2019.

Program substitusi pertanian dirancang pemerintah untuk membantu petani koka Kolombia beralih dari tanaman tersebut dan membangun mata pencaharian yang legal.

Namun saat ini penanaman koka berada pada tingkat rekor lebih dari 250.000 hektare. Banyak warga Kolombia yang mengikuti program substitusi pertanian kecewa pada pemerintah.

Elena Hernández pindah ke wilayah penghasil koka di Guaviare saat tanaman ini mencuat pada dekade 1990-an. Dia tergiur mendapatkan upah yang lebih layak.

"Dulu ada lebih banyak uang. Anda bisa melihatnya di mana-mana," kata Elena.

"Saya berhasil menabung dan membeli rumah kecil," tuturnya.

Namun industri koka juga memicu kekerasan dan ketidakamanan. Kelompok bersenjata memperebutkan kendali atas perdagangan koka, sementara pemerintah berusaha mengekang produksi melalui pemberantasan manual, fumigasi udara, dan kriminalisasi petani.

Berbagai upaya ini mengurangi pendapatan keluarga, tapi gagal untuk menghentikan penanaman koka.

Ketika program substitusi nasional digelar pemerintah Kolombia pada 2017, Elena Hernández sangat ingin mendaftar. Dia lalu bergabung dengan sekitar 100 ribu keluarga yang dijanjikan pemerintah akan mendapat dukungan keuangan sebagai imbalan untuk meninggalkan tanaman koka.

Setiap rumah tangga yang mengikuti program itu dijanjikan akan menerima 36 juta peso Kolombia, sekitar Rp196 juta. Pemerintah bilang akan menyalurkan uang itu selama dua tahun.

"Cara program ini disajikan kepada kami tampak sangat menjanjikan untuk pengembangan wilayah kami," kata Elena.

Program ini, yang dikenal sebagai Program Komprehensif Nasional untuk Penggantian Tanaman Ilegal (PNIS), lahir dari kesepakatan damai tahun 2016, antara pemerintah dan kelompok gerilya terbesar Kolombia, Farc.

Sebagai imbalan atas pencabutan tanaman koka mereka, para petani juga dijanjikan akan mendapatkan dukungan teknis, termasuk dari ahli agronomi, dan saran tentang pengelolaan tanah.

Meskipun program penggantian koka telah ada sebelumnya, program tersebut masih terbatas dalam skala. PNIS adalah upaya paling ambisius hingga saat ini, meski pada awalnya tampak berhasil.

Di beberapa bagian di Provinsi Meta dan Guaviare, ladang koka digantikan oleh pohon lemon, pohon pisang, dan peternakan kecil. Banyak petani, seperti Elena Hernández, lalu memilih menjauhi koka.

Namun bukan berarti para petani ini menganggap pemerintah telah berhasil.

"Pemerintah tidak terlalu berkomitmen kepada kami, para petani. Kami diperlakukan dengan buruk," kata Elena Hernández, menunjuk pada masalah yang muncul sejak awal.

Pembayaran tertunda dan dukungan teknis seringkali gagal terwujud. Kehadiran pemerintah yang lemah di daerah pedesaan dan koordinasi yang buruk antar lembaga membuat dukungan yang dijanjikan kerap tidak sampai ke masyarakat.

Momentum di balik program tersebut melemah seiring dengan pergeseran prioritas politik. Iván Duque, yang menjadi presiden Kolombia pada tahun 2018, memfokuskan kembali pendekatan pemerintah pada strategi pemberantasan dan keamanan.

Pada saat Presiden Gustavo Petro menjabat pada tahun 2022, PNIS tertinggal dari jadwal dan kesulitan menjangkau masyarakat.

Namun beberapa petani menyebut dukungan pemerintah meningkat. Bagi Doralba Bejarano, petani dari Puerto Rico di Meta selatan, situasi yang dihadapinya membaik seiring dengan mulai datangnya dukungan yang tertunda.

"Sebelum program ini, kami sangat ketakutan," katanya.

"Kami harus menyembunyikan pasta koka karena polisi, militer, akan memenjarakan kami," kata Doralba.

Pasta koka adalah bentuk koka yang lebih pekat yang digunakan untuk memproduksi kokain. Pasta ini memungkinkan para petani memperoleh penghasilan lebih banyak daripada menjual daun mentah.

Sekarang, kata Doralba, dia merasa tenang: "Saya pergi ke mana pun saya mau. Saya tidak punya alasan untuk bersembunyi."

Doralba mengatakan, banyak anggota komunitasnya kini menerima dukungan pemerintah untuk mempromosikan dan menjual tanaman non-koka dan bahan makanan lainnya.

Tantangan yang dihadapi dalam program substitusi pertanian koka juga didorong oleh kekuatan di luar perbatasan Kolombia. Salah satunya, permintaan kokain yang besar di Amerika Serikat dan Eropa, serta pasar baru di daerah lain.

"Saat ini permintaan terus meningkat, sehingga akan ada pasokan untuk memenuhi permintaan tersebut," kata Michael Weintraub, salah satu direktur Pusat Studi Keamanan dan Narkoba di Universitas Andes, yang berbasis di ibu kota Kolombia, Bogota.

"Itu berarti Kolombia akan terus menanam koka untuk masa mendatang," tuturnya.

Weintraub juga menyebut konteks keamanan di Kolombia yang "rapuh". Akibatnya, program substitusi koka sulit untuk beroperasi secara efektif di banyak daerah pedesaan.

Meskipun kesepakatan damai tahun 2016 menyebabkan pembubaran sebagian besar faksi FARC, milisi bersenjata lain telah masuk untuk mengisi kekosongan tersebut. Mereka sering kali mengendalikan rute perdagangan ilegal dan ekonomi lokal.

Pemerintah Kolombia saat ini telah berupaya mengatasi hal ini melalui kebijakan "Perdamaian Total". Pemerintah Kolombia mengadakan negosiasi damai dengan semua kelompok bersenjata dan kriminal.

Namun, para analis mengatakan kemajuan yang dicapai masih terbatas.

Tahun 2025, pemerintah mulai meluncurkan RenHacemos, yaitu program substitusi yang bertujuan untuk membangun PNIS sambil mengatasi kekurangannya, di daerah percontohan.

Meskipun petani masih akan mendapatkan dukungan finansial, program ini juga berfokus pada diversifikasi ekonomi lokal di luar penggantian tanaman.

Bantuan yang lebih luas akan mencakup perbaikan jalan, akses ke pendidikan universitas, konektivitas digital, dan perumahan yang lebih baik.

"Koka adalah bisnis," kata Gloria Miranda, direktur badan pemerintah yang bertanggung jawab atas substitusi tanaman ilegal di Kolombia.

"Ini adalah bisnis kriminal, tapi berfungsi seperti bisnis lainnya. RedHacemos bertujuan untuk menggantikan tidak hanya tanaman koka, tapi seluruh ekonomi di sekitarnya, mulai dari pengolahan dan agroindustri hingga transportasi dan logistik," kata Gloria.

Namun bagi banyak pakar, masih ada pertanyaan apakah pendekatan seperti RedHacemos dapat menghasilkan perubahan yang berkelanjutan.

Llanes mengatakan, pertumbuhan budidaya koka yang terus berlanjut menunjukkan bahwa intervensi pemerintah berulang kali tidak berhasil.

Perea, petani koka, skeptis bahwa dukungan pemerintah untuk beralih dari koka akan segera datang kepadanya dan tetangganya.

"Negara telah sepenuhnya meninggalkan kami," katanya, sambil berdiri di tengah tanaman koka yang mengelilingi gubuk kayunya yang lapuk.

"Kami hidup dari hari ke hari, terkadang bahkan kehabisan makanan," ucapnya.

Untuk saat ini, Parea akan terus menanam koka, bukan karena dia seorang kriminal tapi karena itu adalah satu-satunya pilihannya.

"Kami bukan pengedar narkotik. Jika saya pengedar, saya tidak akan hidup seperti ini," ujarnya.